Elia: Nabi dan Insan

Sesi pengajaran Konferensi Internasional KTM oleh Romo George CSE

Nabi Elia tidak asing dalam hidup para karmelit. Bahkan dapat dikatakan bahwa dalam tradisi Gereja Barat, selain dalam Karmel, tradisi Elia tidak terlalu jelas. Sejak semula memang Elia hadir sebagai inspirator para rahib di Gunung Karmel. Akan tetapi, harus segera dikatakan bahwa Elia bukan hanya inspirator bagi Karmel saja. Dalam tradisi para pertapa Gereja Timur, juga ada devosi yang besar terhadap Elia. Bagi mereka, Elia merupakan teladan yang agung.

Elia sejak semula memang dipandang sebagai bapa dan pemimpin Karmel. Walaupun secara historis kita tidak bisa mengatakan bahwa para karmelit merupakan murid langsung turun-temurun dari Elia. Akan tetapi, bagaimanapun, Elia punya tempat penting dalam Karmel, sekurang-kurangnya sebagai inspirator. Ia memberikan suatu model hidup pertapa. Pribadi dan hidup Elia pulalah yang telah menjadi sumber inspirasi dan menentukan bagi kehidupan para karmelit.

Ada beberapa aspek hidup Elia yang menjadi teladan bagi para karmelit:


1. Elia sebagai Manusia Biasa

Menurut Yakobus, “Elia adalah manusia biasa, sama seperti kita…” (Yak 5:17). Yang menarik di sini adalah kata-kata bahwa Elia adalah manusia sama seperti kita. Ini penting untuk dimengerti sebab kalau Elia adalah orang super, siapa yang bisa mengikuti dia? Ia menjadi besar karena rahmat Allah. Rahmat Allah membentuk Elia. Rahmat Allah membentuk Santo Paulus (bdk. Gal 2:19-20). Rahmat Allah pulalah yang akan membentuk kita.

Elia adalah manusia seperti kita. Demikian juga para rasul. Namun, sebagai manusia-manusia biasa mereka begitu peka dan mau menyerahkan seluruh hati dan hidup mereka kepada Yesus. Dengan demikian, rahmat Allah telah mengubah mereka menjadi demikian itu. Jadi, dalam hidup Elia kita melihat titik tolak para karmelit yaitu Elia sebagai manusia sama seperti kita. Namun, karena kerelaannya untuk diubah oleh Allah, akhirnya Elia benar-benar diubah menjadi sedemikian agung.

2. Elia adalah Insan Allah

Kalau kita lihat dalam hidupnya, oleh rahmat dan karena rahmat Allah, Elia benar-benar telah menjadi a man of God, sebutan bagi Elia sendiri dalam Kitab Suci (1 Raj 17:18.24). Ia adalah Insan Allah yang diresapi sungguh-sungguh oleh kehadiran Allah. Kisah Elia dimulai dengan kata-kata, “Allah hidup dan di hadirat-Nya aku berdiri.” (1 Raj 17:1) Dalam diri Elia ada suatu kesadaran akan Allah dan perintah-Nya. Elia adalah tokoh yang menjadi besar karena ia benar-benar diresapi oleh kehadiran Allah.

Makna “kerit”, “karith”, “caritas” dalam 1 Raj 17:6 adalah dalam keheningan dan kesunyian Elia hidup semata-mata hanya bagi Allah. Hampir seluruh hidup Elia dilewatkannya dalam keheningan dan kesunyian dalam hadirat Allah. Ini pulalah yang menjadi inspirasi bagi para karmelit untuk siang malam berjaga-jaga merenungkan Firman Tuhan.

Bagi Elia, Yahwehlah yang menjadi segala-galanya baginya. Seluruh hidupnya juga diarahkan kepada Yahweh. Walaupun hidup dalam keheningan dan kesunyian, ia tidak serta-merta terpisah dari umat. Elia hidup demi melayani Tuhan, demi kepentingan umat-Nya juga. Ia tetap solider dengan Israel. Begitu diperintahkan turun gunung, ia segera melakukannya sebagai pelaksanaan kehendak Allah. Dengan senantiasa hidup di hadirat Allah, kehendak Allah jugalah yang menjadi pedoman hidupnya. Seperti kata Tuhan Yesus: “Kalau kamu mengasihi Aku, kamu akan melakukan perintah-perintahKu.” (Yoh 14:15) Mengasihi Allah tidak bisa dipisahkan dari pelaksanaan perintah-perintah-Nya demi kepentingan umat-Nya.

Dalam Karmel ada motto yang juga merupakan motto Elia: “Vivit Dominus in Cuius Conspectu Sto”. Kalau tidak ada kasih yang otentik kepada Tuhan, mustahil ada kasih otentik kepada manusia. Karena itu, “Vivit Dominus…” tetap menjadi motto yang sungguh-sungguh mengungkapkan seluruh spiritualitas KTM. Baru setelah betul-betul diresapi kehadiran Allah, yang lain-lain akan menyusul. Karena Elia adalah insan Allah, segala yang dilakukannya berkenan kepada Allah. Sesungguhnya ia hanya mau melakukan kehendak Allah. Karena ia hidup hanya bagi Allah, seluruh kegiatannya mengalir dari persatuannya yang mesra dan mendalam dengan Allah.

Di sini kita ingat pula kata-kata Yohanes Salib: “satu faal kecil seorang yang berada dalam persatuan transforman dengan Allah jauh lebih berharga dibandingkan dengan semua faal yang dilakukan oleh seribu orang yang belum sampai pada taraf itu”. Nilai suatu perbuatan tidak diukur menurut kuantitasnya, melainkan kualitasnya. Di sini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus cukup wafat satu kali saja untuk menebus seluruh manusia. Kasih yang mendasarinya tidak terbatas sehingga nilainya cukup untuk menebus semua orang. Juga kita mengerti mengapa Bunda Maria yang hidupnya begitu biasa, karena kasihnya luar biasa, menjadi lebih besar daripada para malaikat. Ia jauh lebih besar daripada para rasul yang melakukan begitu banyak karya besar.

Dari hidup Elia, kita kembali diingatkan bahwa satu orang yang telah mencapai persatuan transforman ini jauh lebih berharga daripada ribuan orang yang belum sampai di situ. Bandingkan juga Teresia Kecil dengan kasihnya yang luar biasa. Dari persatuan yang mesra dengan Allah mengalirlah semangatnya yang besar untuk kemuliaan Allah: “Aku bekerja segiat-giatnya untuk Allah bala tentara” (1 Raj 19:14). Semangat untuk melayani mengalir dari persatuannya dengan Allah. Tanpa persatuan dengan Allah, “zelo zelatus…” bisa menjadi kosong, menjadi semacam ambisi manusiawi yang merugikan. Sebaliknya, kalau semangat itu dijiwai persatuan dengan Allah, pelayanan kita menjadi semakin murni.

Mengapa seorang Muder Teresa dari Kalkuta dapat melayani seperti itu? Kita lihat dari semboyannya: “Bertemu dengan Yesus di dalam doa, bertemu dengan Yesus dalam sakramen-sakramen, bertemu dengan Yesus dalam diri orang yang paling miskin dari yang paling miskin”. Yang pertama-tama adalah doa. Tidak mungkin seseorang dapat bertemu Yesus dalam diri orang miskin sebelum ia bertemu Yesus dalam doa dan sakramen-sakramen. Justru karena kasihnya kepada Yesus dan persatuannya dengan Yesus, ia memperoleh rahmat untuk melihat Yesus dalam orang yang paling miskin.

Kalau kita melupakan vivit dominus, zelo zelatus itu menjadi kosong. Bisa saja seseorang mengatakan bahwa ia mengasihi Tuhan, tetapi sebenarnya ia sibuk dengan dirinya sendiri. Kasih kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama. Motto “zelo zelatus sum pro domino Deum exercituum” harus mengalir sebagai akibat dari yang pertama: “vivit dominus in cuius conspectu sto”. Kalau tidak, suatu karya pelayanan yang tampak begitu luhur bisa hancur ternodai oleh ambisi pribadi.

Sebagai ilustrasi, sekitar tahun 50-an ada disebut imam-imam pekerja yang begitu prihatin akan nasib buruh, yang dijauhkan dari Allah. Dengan semangat otentik dan hidup rohani yang mendalam, para imam tersebut terjun ke dalam dunia para buruh itu untuk membawa mereka kembali kepada Allah. Mula-mula mereka dikecam dan dicaci-maki. Namun, ketika banyak hati yang tersentuh oleh ketulusan mereka dan karya mereka mulai menampakkan buah yang baik, barulah mereka dipuji karena karyanya yang otentik. Setelah karya tersebut menjadi populer, banyak imam yang tidak murni semangatnya dan juga tidak mendalam hidup rohaninya menerjunkan diri dalam pelayanan itu. Akibatnya menyedihkan. Banyak dari para imam yang tidak murni motivasinya itu yang akhirnya malahan kehilangan imannya.

Jadi, kedua motto di atas tidak bisa dipisahkan. Pelayanan kasih harus mengalir dari kasih kepada Allah. Bukti cinta kasih kepada Allah adalah cinta kasih otentik kepada manusia. Kita harus betul-betul sadar, walaupun kita lemah, kalau kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah, sungguh-sungguh kita akan bertumbuh dan berkembang dalam kasih Allah sendiri.

3.  Elia sebagai Pejuang Allah yang Gigih

Di dalam keheningan Kerit, Elia dibawa semakin masuk ke dalam misteri Allah. Mengalami kasih Allah yang melampaui segala pengertian, Elia bertumbuh dalam kasih. Di situ pula Elia memperoleh kekuatan untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah. Sebagaimana Elia, misionaris-misionaris besar adalah sekaligus pendoa-pendoa yang besar.

Elia, atas perintah Allah, telah turun gunung untuk membawa umat kembali kepada Allah. Pada waktu itu, sebagian besar bangsa Israel telah murtad dan menyembah Baal. Elia, yang menurut Sir 4:8, perkataannya seperti obor yang menyala, dengan semangat berkobar-kobar tanpa gentar menghadapi raja dan umat yang murtad. Dengan imannya yang besar ia telah menurunkan api dari langit dan membuktikan bahwa Yahweh adalah Tuhan. Dengan itu, ia berhasil mengembalikan umat yang murtad itu kembali kepada Allah.

Setiap rahmat dari Allah selalu memiliki aspek sosial. Bahkan juga dalam hal rahmat yang bekerja dalam diri seorang berdoa. Apa yang dihayatinya akan berbalik kembali kepada umat manusia umumnya. Kasih dan pengorbanan seorang Eremit yang sungguh-sungguh hidup terpisah sekalipun, asal otentik, akan mengalir kembali kepada Gereja. Gereja sendiri dalam dekritnya tentang Karya Misi (Ad Gentes, 40) mengakui bahwa bagaimanapun urgennya pewartaan, hidup yang semata-mata dibaktikan kepada Allah tetap punya pengaruh dan nilai yang besar dan harus diberi tempat yang utama. Ia merupakan sumber kesuburan rohani bagi seluruh Gereja.

Nilai kita di hadapan Tuhan dan bagi Gereja diukur menurut besarnya kasih yang ada di dalam diri kita. Bukan menurut prestasi-prestasi lahiriah. Diukur berdasarkan yang terakhir, Bunda Maria tidak punya prestasi apa-apa. Akan tetapi, dalam pandangan iman, nilai yang tampak akan sangat berbeda. Bagi kita yang menjadi pengikut-pengikut Elia harus senantiasa menyadarinya. Betapa pentingnya kita selalu meresapkan sabda Tuhan: “Setelah melakukan semuanya katakanlah: aku ini hanya hamba yang tidak berguna. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.” (Luk 17:10) Janganlah mengira bahwa dengan pelayanan yang besar dan tampak sukses merupakan jasa-jasa manusia. Jika kita dipanggil Tuhan untuk menuai, itu memang harus kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan murni demi Tuhan. Semakin murni intensi kita, semakin tanpa pamrih, semakin besarlah kuasa Tuhan yang mengalir. Semuanya akan menjadi tidak berarti kalau dilakukan dengan motivasi yang tidak murni. Bisa jadi karena ingin dipuji, atau karena takut menyinggung orang lain, pelayanan seseorang menjadi hampa. Kita harus selalu berani mengatakan kebenaran.

Suatu saat pastor dari Ars mengecam pesta-pesta dansa dalam khotbahnya. Mendengar itu, ada umat yang mengingatkannya supaya hati-hati dalam berbicara karena pesta tersebut juga diadakan oleh para bangsawan istana. Jangan-jangan kalau para bangsawan itu sampai marah, sumbangan dari mereka akan berhenti. Namun, apa yang terjadi? Minggu berikutnya pastor tersebut mengatakan dalam khotbahnya, kalau hal itu salah, sekalipun dilakukan di istana, tetap salah. Inilah keberanian seorang kudus. Yang menarik, keesokan harinya seorang bangsawan dari istana, datang dan berterimakasih kepadanya karena ia telah mengatakan apa yang benar dan menunjukkan perhatiannya yang tulus kepada mereka. Sebagai tanda terima kasihnya, bangsawan itu memberikan sumbangan yang besar.

4.  Elia dan Penyelenggaraan Allah

Dalam hidupnya kita telah melihat bahwa Elia dalam hidupnya telah menunjukkan kepercayaan yang besar kepada Allah. Allah yang sungguh-sungguh peduli. Kita melihat bahwa sabda Yesus dalam Luk 12:22-31 benar-benar nyata dalam hidup Elia. Ketika bertapa di tepi sungai Kerit, setiap hari Tuhan mengirimkan burung gagak untuk memberi makan kepada Elia (bdk. juga riwayat santo Antonius). Kemudian, ketika Elia diterima janda di Sarfat, lagi-lagi tampak penyelenggaraan Allah yang luar biasa, tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-buli tidak berkurang (lih. 1 Raj 17:7:24)!

Mengenai penyelenggaraan Allah, tokoh-tokoh Karmel lainnya juga menyadarinya. Suatu hari, Santa Teresa dari Avila mendengar ada suatu biara yang terpaksa mengemis makanan. Ada yang berpendapat bahwa mereka kelaparan karena terlalu banyak melayani Tuhan. Teresa protes, justru karena kurang melayani Tuhanlah mereka kelaparan. Kemudian hal itu ia buktikan. Dengan penerapan disiplin dan semangat yang lebih baik, biara itu akhirnya tidak kekurangan apa pun.

Bukti-bukti penyelenggaraan Tuhan menunjukkan betapa Allah mengasihi kita.

5.  Elia sebagai Teladan Iman yang Hidup

Santo Yakobus mengatakan bahwa Elia adalah teladan iman yang hidup (lih. Yak 5:17-18). Walaupun hanya manusia biasa, ia punya iman. Ketika ia berdoa, langit tertutup. Lalu, ketika ia berdoa lagi, langit terbuka. Iman ini ditunjukkannya pula dalam peristiwa di Gunung Karmel. Inilah iman yang sempurna. Tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

Comments are closed.